July 17, 2026

Masih Ada Penderita Thalasemia di Batang, POPTI Ajarkan Siswa SMA Pentingnya Skrining Sebelum Menikah

0
Attachment for Masih Ada Penderita Thalasemia di Batang, POPTI Ajarkan Siswa SMA Pentingnya Skrining Sebelum Menikah

Penyintas Thalasemia di Batang Menjadi Peringatan Penting

Di Kabupaten Batang, terdapat 42 penyintas Thalasemia yang menjadi alarm bahwa penyakit kelainan darah bawaan ini masih menjadi masalah serius. Upaya pencegahan kini tidak lagi hanya ditujukan kepada calon pengantin, tetapi dimulai sejak remaja melalui kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).

Perhimpunan Orang Tua Penderita Thalasemia Indonesia (POPTI) Batang memanfaatkan momentum MPLS untuk memberikan edukasi kepada siswa baru SMA mengenai bahaya Thalasemia dan pentingnya skrining kesehatan sebelum menikah. Langkah ini dinilai strategis karena para remaja berada pada fase mulai mengenal hubungan dengan lawan jenis, sehingga pemahaman sejak dini diharapkan dapat menjadi bekal saat mereka membangun keluarga di masa depan.

Ahli Medis POPTI Batang sekaligus Dokter Anak RSUD Batang, dr Tan Evi Susanti, menjelaskan bahwa sebagian besar siswa ternyata belum memahami apa itu Thalasemia, bagaimana penyakit tersebut diturunkan, maupun cara pencegahannya. “Mayoritas mereka belum memahami Thalasemia. Karena itu kami mengemas penyampaian materi dalam bentuk permainan interaktif agar lebih mudah dipahami. Hasilnya, siswa antusias dan banyak mengajukan pertanyaan,” katanya.

Menurutnya, edukasi kepada remaja merupakan salah satu strategi paling efektif untuk menekan angka kelahiran anak dengan Thalasemia mayor. Penyakit ini merupakan kelainan genetik yang diturunkan dari kedua orang tua pembawa sifat (carrier). Karena itu, seseorang yang tampak sehat belum tentu terbebas dari risiko menjadi pembawa gen Thalasemia.

dr Tan Evi menjelaskan, apabila dua orang yang sama-sama carrier menikah, peluang melahirkan anak dengan Thalasemia mayor cukup besar. Kondisi tersebut membuat penderitanya harus menjalani transfusi darah seumur hidup dan terapi rutin yang membutuhkan biaya serta perhatian besar dari keluarga.

“Yang ingin kami tanamkan bukan rasa takut untuk menikah, tetapi kesadaran bahwa skrining sebelum menikah sangat penting agar setiap pasangan dapat mengambil keputusan secara bijak,” jelasnya.

POPTI Batang menargetkan semakin banyak sekolah yang bersedia memasukkan edukasi Thalasemia sebagai bagian dari MPLS maupun kegiatan kesehatan sekolah. Tahun sebelumnya, sosialisasi serupa juga telah dilaksanakan di SMA Negeri 1 Bandar.

Seorang peserta MPLS, Haidar, mengaku baru mengetahui bahwa Thalasemia merupakan penyakit keturunan yang sebenarnya dapat dicegah melalui pemeriksaan kesehatan sebelum menikah. POPTI berharap edukasi sejak bangku sekolah mampu membangun kesadaran generasi muda tentang pentingnya skrining Thalasemia.

Dengan meningkatnya pemahaman masyarakat, cita-cita mewujudkan Batang Zero Thalasemia diharapkan dapat tercapai secara bertahap melalui pencegahan, bukan hanya pengobatan. Berbeda dengan pendekatan yang selama ini banyak dilakukan kepada calon pengantin, sosialisasi sejak usia sekolah dinilai menjadi investasi jangka panjang untuk memutus rantai lahirnya kasus baru Thalasemia di Kabupaten Batang.

“Saya baru tahu kalau orang yang kelihatannya sehat ternyata bisa menjadi pembawa sifat Thalasemia. Jadi menurut saya penting sekali melakukan cek kesehatan sebelum memilih pasangan,” kata Haidar.

Edukasi Sejak Dini untuk Mengurangi Kasus Thalasemia

  • Pentingnya Kesadaran Awal

    Remaja adalah target utama edukasi Thalasemia karena mereka sedang dalam fase perkembangan sosial dan emosional. Pemahaman awal tentang penyakit ini akan membantu mereka membuat keputusan yang lebih bijak saat dewasa.

  • Metode Interaktif untuk Pemahaman Lebih Baik

    POPTI menggunakan metode permainan interaktif agar siswa lebih mudah memahami konsep Thalasemia. Hal ini meningkatkan partisipasi dan minat siswa terhadap topik yang disampaikan.

  • Pencegahan Melalui Skrining

    Skrining kesehatan sebelum menikah menjadi kunci pencegahan Thalasemia. Pemahaman tentang penyebaran genetik dan risiko bagi pasangan yang sama-sama carrier sangat penting.

  • Kolaborasi dengan Sekolah

    POPTI berupaya memperluas edukasi Thalasemia dengan melibatkan sekolah-sekolah. Dengan demikian, informasi tentang penyakit ini dapat mencapai lebih banyak siswa.

  • Tujuan Jangka Panjang: Zero Thalasemia

    Dengan edukasi sejak dini, POPTI berharap mampu mengurangi jumlah kasus Thalasemia di Batang. Ini adalah langkah preventif yang lebih efektif dibandingkan hanya mengandalkan pengobatan.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *