Bahaya di Balik Ketenangan Anak Saat Menonton Video Pendek, Fokus Berkurang dan Malas Sekolah
Kebiasaan Anak Menghabiskan Waktu di Media Sosial dan Game Berisiko Tinggi
Kebiasaan anak menghabiskan waktu dengan menonton video pendek di media sosial atau bermain game dalam waktu lama ternyata tidak bisa dianggap sepele. Di balik aktivitas yang terlihat membuat anak betah memegang gawai, tersimpan risiko terganggunya kemampuan konsentrasi yang justru berdampak pada proses belajar hingga kehidupan sehari-hari.
Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Konsultan Psikiatri Anak dan Remaja, dr. Isa Multazam Noor, Sp.KJ, Subsp. AR(K), M.Sc., menjelaskan bahwa fenomena anak yang mudah terdistraksi kini semakin sering ditemukan seiring meningkatnya penggunaan teknologi digital. Salah satu pemicu terbesar adalah paparan video singkat atau reels yang membuat anak terbiasa berpindah perhatian dalam waktu sangat cepat.
“Kalau dari fenomena sekarang itu kan kita memang dekat sekali dengan teknologi digital ya. Dan ini yang seringkali gampang mendistraksi anak,” ujarnya dalam talkshow kesehatan virtual yang diselenggarakan di akun Instagram Kementerian Kesehatan, Jumat (10/7/2026).
Ia menjelaskan, saat anak terus-menerus mengganti tayangan hanya dengan menggeser layar, otak tidak memiliki cukup waktu untuk memproses informasi secara mendalam. Akibatnya, anak menjadi terbiasa menerima rangsangan secara instan dan kesulitan mempertahankan perhatian pada satu aktivitas dalam waktu yang lebih lama.
Istilah Brain Rot Muncul karena Kebiasaan Scroll Tanpa Henti
Di luar negeri, istilah “brain rot” mulai dikenal untuk menggambarkan kondisi ketika otak terlalu sering menerima stimulasi instan dari konten digital. Menurut Isa, kebiasaan melihat video pendek secara terus-menerus membuat anak mudah kehilangan fokus karena perhatian selalu berpindah sebelum informasi dipahami secara utuh.
“Bahkan dibilangnya kalau ada istilah di luar negeri brain rot ya. Jadi otaknya menciut gitu ya karena dia hanya taunya pola yang seperti itu,” imbuhnya.
Ia menambahkan, kondisi tersebut berpotensi mengganggu fungsi eksekutif otak, termasuk kemampuan mengingat, berkonsentrasi, serta memahami informasi yang diterima.
Terlihat Fokus Main Game, tapi Belum Tentu Mampu Fokus Belajar
Banyak orang tua mengira anak yang mampu bermain game dalam waktu lama berarti memiliki konsentrasi yang baik. Padahal, menurut Isa, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Ia menjelaskan, saat bermain game anak memang terlihat fokus, tetapi perhatian mereka hanya tertuju pada aktivitas tersebut. Sementara kemampuan mempertahankan perhatian saat belajar, mendengarkan guru, atau mengerjakan tugas justru bisa menurun.
Akibatnya, kewajiban sebagai pelajar mulai terabaikan karena anak lebih memilih aktivitas digital yang memberikan kepuasan secara instan.
Bisa Berujung Menolak Sekolah
Isa mengatakan, pada kondisi yang lebih berat, gangguan fokus akibat paparan digital berlebihan dapat memengaruhi keinginan anak untuk bersekolah. Ia mengaku menemukan anak yang akhirnya menolak datang ke sekolah karena tidak sanggup mengikuti proses belajar di kelas yang menuntut perhatian dalam waktu lama.
“Nah nantinya dia nggak mau sekolah. Jadi banyak sekarang tuh anak-anak yang ternyata didiemin udah satu tahun nggak sekolah, school refusal. Dia menolak sekolah katanya, ‘Aku nggak kuat kalau sekolah-sekolah yang sekarang ini harus aku duduk di sekolah di kelas mengamati pelajaran. Aku nggak bisa katanya,” paparnya.
Menurut Isa, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya orang tua tidak hanya membatasi durasi penggunaan gawai. Tetapi juga memberikan stimulasi lain yang membantu perkembangan fungsi kognitif anak. Ia menambahkan, apabila anak bermain game, sebaiknya dipilih permainan yang memang dirancang untuk melatih kemampuan berpikir dan konsentrasi, bukan sekadar memberikan hiburan instan.