MPLS Hampir Selesai, Mengapa Anak Sulit Fokus? Ini Penjelasan Psikiater
Masa Pengenangan Lingkungan Sekolah (MPLS) Berakhir, Anak Siap Masuk ke Proses Belajar
Setelah masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) berakhir, siswa dari tingkat Sekolah Dasar hingga SMA mulai mempersiapkan diri untuk memasuki proses belajar di sekolah. Namun, tidak semua anak dapat mengikuti pelajaran dengan lancar. Beberapa di antaranya tampak tertinggal atau kesulitan dalam memahami materi yang diberikan.
Masalah ini tidak selalu disebabkan oleh kemampuan intelektual yang rendah. Pada sebagian kasus, kesulitan tersebut justru berasal dari keterbatasan kemampuan konsentrasi dan fokus yang belum berkembang secara optimal. Hal ini menjadi perhatian khusus bagi para ahli kesehatan mental, terutama dokter spesialis kedokteran jiwa yang juga subspesialis psikiatri anak dan remaja, dr. Isa Multazam Noor, Sp.KJ, Subsp. AR(K), M.Sc.
Usia 7 Tahun sebagai Fase Penting dalam Perkembangan Konsentrasi
Menurut dr. Isa, usia sekitar tujuh tahun menjadi fase penting dalam melihat perkembangan kemampuan fokus anak. Pada usia ini, anak biasanya mulai masuk ke Sekolah Dasar dan dituntut untuk mampu mempertahankan perhatian selama proses belajar.
“Anak yang sudah berusia tujuh tahun ke atas seharusnya sudah bisa memperhatikan selama proses belajar,” ujarnya dalam sebuah talkshow kesehatan virtual yang diselenggarakan di akun Instagram Kementerian Kesehatan, Jumat (10/7/2026).
Namun, kondisi ini tidak selalu terjadi pada semua anak. Anak-anak dengan gangguan seperti ADHD, ADD, atau gangguan belajar sering kali mengalami kesulitan mempertahankan perhatian, sehingga sulit disamakan dengan teman-temannya.
Jangan Terburu-buru Memberi Label Negatif
Dr. Isa menegaskan bahwa orang tua maupun guru tidak boleh langsung memberi label negatif kepada anak yang sulit mengikuti pelajaran. Banyak kasus menunjukkan bahwa kemampuan intelektual anak sebenarnya normal, tetapi gangguan konsentrasi membuat potensinya tidak berkembang secara maksimal.
“Padahal IQ-nya mungkin setelah di tes gak kurang gitu. Bahkan normal gitu. Terus juga dikatakan anak yang nakal. Jadi mendapatkan label yang tidak semestinya gitu,” imbuhnya.
Ia menekankan bahwa jika gangguan konsentrasi dikenali lebih awal, anak memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan penanganan yang sesuai agar kemampuan belajarnya dapat berkembang secara optimal.
Lima Tahun Pertama adalah Masa Emas Perkembangan Otak
Selain itu, dr. Isa juga menyoroti pentingnya lima tahun pertama kehidupan anak. Masa ini sering disebut sebagai golden period karena struktur otak berkembang sangat pesat. Untuk itu, stimulasi yang tepat sangat dibutuhkan agar perkembangan otak anak berjalan maksimal.
Stimulasi pada masa awal kehidupan sebaiknya dilakukan melalui aktivitas bermain yang sesuai usia. Setelah anak memasuki usia sekitar tujuh tahun, stimulasi dapat berkembang menjadi aktivitas yang lebih kompleks untuk melatih fungsi kognitif.
Area otak bagian prefrontal berperan penting dalam berbagai fungsi eksekutif, seperti daya ingat, konsentrasi, mengenali objek, hingga kemampuan menyampaikan pendapat.
Mengapa Kemampuan Fokus Tiap Anak Berbeda?
Dr. Isa menjelaskan bahwa kemampuan konsentrasi anak tidak hanya dipengaruhi oleh usia. Meski berada di kelas yang sama, kemampuan fokus setiap anak bisa berbeda karena dipengaruhi oleh perkembangan pola pikir, stimulasi yang diterima, hingga kondisi perkembangan kognitifnya.
Anak yang kurang mendapatkan stimulasi sejak dini dapat menunjukkan kemampuan berpikir yang belum sesuai dengan usia biologisnya. Selain itu, gangguan perhatian maupun masalah perkembangan intelektual juga perlu dipertimbangkan melalui proses asesmen.
“Padahal sebenarnya dia pinter gitu. Cuman gak distimulasi aja atau orang tuanya kurang memberikan cara-cara atau metode-metode stimulus untuk otaknya berkembang gitu. Atau bahkan dia punya gangguan atensi dan fokus yang tidak dikelola dengan baik,” lanjutnya.
Karena itu, orang tua tidak dianjurkan langsung menyimpulkan penyebab anak sulit fokus hanya berdasarkan hasil belajar di sekolah. Pemeriksaan lebih lanjut diperlukan agar anak mendapatkan stimulasi dan penanganan yang sesuai dengan kebutuhannya.