MPLS SMK Negeri 8 Surakarta, Awal Mimpimu Dimulai dari Bakat Seni
Kehadiran 525 Peserta Didik Baru di SMK Negeri 8 Surakarta
Sebanyak 525 peserta didik baru mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMK Negeri 8 Surakarta, yang lebih dikenal dengan sebutan SMKI atau pusat pendidikan kejuruan seni, pada awal tahun ajaran baru. Kegiatan tersebut berlangsung di lingkungan sekolah di Jalan Sangihe, Kepatihan Wetan, Kecamatan Jebres, Kota Surakarta, Jawa Tengah pada Kamis pagi (16/7/2026). Hal ini menjadi langkah awal para siswa dalam mengenal budaya, lingkungan belajar, serta kehidupan sekolah yang akan mereka jalani selama menempuh pendidikan.
SMK Negeri 8 Surakarta terletak di tengah kawasan permukiman warga dan menjadi satu-satunya Sekolah Menengah Kejuruan Negeri di Kota Surakarta yang secara khusus menyelenggarakan pendidikan di bidang seni. Keberadaannya menjadikan sekolah ini sebagai salah satu tujuan bagi calon peserta didik yang ingin mengembangkan bakat dan kompetensi di dunia seni.
Mimpi Besar Anak Seni
Daya tarik tersebut tercermin dari asal peserta didik baru yang tidak hanya berasal dari Kota Surakarta dan berbagai daerah di Jawa Tengah, tetapi juga dari luar kota hingga luar Pulau Jawa. Keragaman latar belakang ini menjadi warna tersendiri bagi lingkungan belajar di SMK Negeri 8 Surakarta, sekaligus menunjukkan kepercayaan masyarakat terhadap kualitas pendidikan seni yang ditawarkan sekolah tersebut.
Hal tersebut terungkap saat tim mewawancarai salah seorang peserta didik baru Chandra Gutri Satria Pratiwi (17), asal Tulungagung, Jawa Timur. Ia mengaku dapat menempuh pendidikan di SMK Negeri 8 Surakarta merupakan impian yang telah lama ia cita-citakan. Baginya, SMK Negeri 8 Surakarta ini menjadi tempat yang tepat untuk mengembangkan bakat dan mewujudkan mimpinya di bidang seni.
Bagi Chandra, diterima di SMK Negeri 8 Surakarta merupakan langkah awal untuk mewujudkan impiannya di dunia seni. Peserta didik baru asal Tulungagung, Jawa Timur, itu mengaku telah mengidolakan sekolah tersebut sejak kecil. “Alasan saya masuk sini karena memang sekolah impian. Dari kecil saya sudah sering ikut pentas bersama bapak, meskipun harus ngekos dan jauh dari orang tua, tapi lama-lama pasti terbiasa,” ujar Chandra kepada pada Kamis pagi (16/7/2026).
Chandra mengatakan ingin memperdalam kemampuan olah vokal dan seni karawitan agar suatu hari dapat menjadi sinden profesional. Ia juga terinspirasi mengikuti jejak sinden-sinden ternama, seperti Niken Salindry, Silvy Kumalasari, dan Lintang Kairo.
Semangat serupa juga ditunjukkan peserta didik baru lainnya yaitu Dwi Vinda Yuniar (16) Peserta didik dari Tuban, Jawa Timur yang bercita-cita menjadi seniman pertama di keluarganya. Berasal dari keluarga yang tidak memiliki latar belakang seni, ia justru terdorong untuk membuka jalan baru bagi keluarganya.
“Dari keluarga enggak ada yang berkecimpung di dunia seni, jadi saya ingin menjadi orang pertama di keluarga yang menjadi seniman,” tutur Vinda.
Menyambut Generasi Seni Baru
Selama mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), Chandra (17) mengaku menikmati seluruh rangkaian kegiatan yang diselenggarakan sekolah. Menurutnya, suasana MPLS berlangsung menyenangkan dengan berbagai aktivitas yang membuat peserta didik baru lebih mudah beradaptasi. Pernyataan tersebut mencerminkan besarnya tekad para peserta didik baru yang berasal dari luar Kota Surakarta untuk mengejar impian mereka di bidang seni.
Demi menempuh pendidikan di SMK Negeri 8 Surakarta, tidak sedikit yang rela meninggalkan kampung halaman dan tinggal jauh dari keluarga. Keputusan itu menjadi bukti bahwa jarak bukanlah penghalang bagi mereka untuk mengembangkan bakat dan meraih cita-cita di sekolah seni yang telah lama mereka impikan.
Antusiasme tersebut juga tercermin dari tingginya jumlah peserta didik baru yang diterima SMK Negeri 8 Surakarta pada tahun ajaran 2026/2027. Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMK Negeri 8 Surakarta, Charitra Yulia Dien Wardihastri Dellavani (46), mengatakan pada tahun ajaran 2026/2027 sekolah menerima sebanyak 525 peserta didik baru. Rinciannya, Program Keahlian Seni Pertunjukan menerima 454 siswa, Desain Komunikasi Visual (DKV) sebanyak 35 siswa, dan Broadcasting sebanyak 36 siswa.
Penyesuaian Karakter
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMK Negeri 8 Surakarta, Vina (46), menjelaskan bahwa sekolah menyediakan jalur prestasi khusus bagi calon peserta didik yang memiliki bakat di bidang seni. Melalui jalur tersebut, calon siswa mengikuti serangkaian tes minat dan bakat sebagai bagian dari proses seleksi. Menurutnya, lima puluh persen peserta didik baru tahun ajaran 2026/2027 diterima melalui jalur prestasi khusus yaitu melalui seleksi minat bakat.
Meski demikian, sekolah juga memberikan kesempatan kepada calon peserta didik yang belum memiliki pengalaman di bidang seni. Mereka dapat diterima melalui jalur prestasi akademik atau berdasarkan nilai rapor, kemudian mengembangkan kemampuan seninya selama menempuh pendidikan di SMK Negeri 8 Surakarta.
“Di sini SMK Negeri 8 Surakarta tetap terbuka bagi siapa saja yang memiliki kemauan untuk belajar. Untuk yang punya bakat dari kecil tampilnya agar luar biasa, yang dari nol bisa kita latih untuk mengejar target yang kompeten,” Jelas Vina.
Vina menambahkan, peserta didik yang mendaftar di SMK Negeri 8 Surakarta berasal dari berbagai daerah, tidak hanya dari Kota Surakarta. Beberapa di antaranya datang dari luar kota seperti Boyolali dan Banyumas, wilayah Jawa Timur, hingga luar Pulau Jawa seperti Kalimantan Selatan.
Program dan Kegiatan yang Menarik
Dalam pelaksanaan MPLS tahun ini, SMK Negeri 8 Surakarta tetap mengacu pada arahan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dengan menerapkan konsep MPLS Ramah. Melalui kegiatan tersebut, sekolah berupaya menciptakan lingkungan pengenalan sekolah yang positif, aman, dan mendukung proses adaptasi peserta didik baru.
Vina menjelaskan, meskipun SMK Negeri 8 Surakarta dikenal sebagai sekolah seni yang kerap dipandang memiliki kebebasan berekspresi, pihak sekolah tetap menanamkan nilai kedisiplinan dan sikap (attitude) kepada seluruh peserta didik. Menurutnya, pembentukan karakter menjadi bagian penting dalam proses pendidikan di SMK Negeri 8 Surakarta. Kreativitas seni tetap berjalan beriringan dengan kedisiplinan dan tanggung jawab sebagai seorang pelajar.
“Kami tetap memiliki tata tertib yang harus dipatuhi siswa, seperti menjaga kerapian penampilan, rambut tidak boleh gondrong, serta berpakaian sesuai ketentuan sekolah,” jelas Vina.
MPLS tahun ini mengusung tema “Jujur, Gembira, Bahagia” yang selaras dengan jargon SMK Negeri 8 Surakarta, yakni “Cakep, Ndayani, Gumregah, Endap-endapi” yang menggambarkan karakter peserta didik SMKN 8 untuk tampil percaya diri, berdaya, bersemangat, serta memiliki keunggulan dalam berkarya.
Rangkaian MPLS di SMK Negeri 8 Surakarta juga menghadirkan sesi bersama alumni melalui program alumni berkontribusi dan alumni berbakti. Kehadiran para alumni bertujuan memberikan inspirasi serta gambaran kepada peserta didik baru mengenai perjalanan karier setelah lulus. Melalui pembekalan tersebut, siswa diharapkan memahami bahwa pendidikan di SMK Negeri 8 Surakarta dapat menjadi bekal untuk terjun ke dunia kerja maupun masyarakat.
“Ilmu-ilmu yang didapat di sini nantinya akan diterapkan di masyarakat seperti berkarier di bidang tata rias, busana, menjadi makeup artist (MUA), hingga tampil dalam berbagai pentas dan acara,” papar Vina.
Hal yang membedakan MPLS di SMK Negeri 8 Surakarta adalah adanya sesi penampilan dari setiap program keahlian. Peserta didik baru diberi kesempatan menampilkan kreativitas kelompok berdasarkan program keahlian masing-masing. Kegiatan yang digelar pada 17 Juli 2026.
“Yang bikin beda nanti akan ditampilkan tari dari anak anak sendiri, iringannya juga akan live, yang mungkin ga ada di sekolah-sekolah lain,” Ujar Vina.
Menurut Vina, tantangan dalam pelaksanaan MPLS tahun ini adalah membentuk karakter peserta didik agar selaras dengan arahan Kemendikdasmen melalui penerapan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Salah satu hal yang perlu disesuaikan adalah kebiasaan sehari-hari siswa, karena setiap aktivitas peserta didik turut menjadi bagian dari pemantauan sekolah.
“Semua kegiatan siswa harus kita laporkan, mulai dari mereka bangun jam berapa hingga tidur jam berapa,” ujar Vina.
Ia berharap melalui MPLS, peserta didik baru mulai menerapkan kebiasaan positif tersebut secara bertahap. Namun menurutnya, khusus bagi siswa seni, penerapan kebiasaan tidur lebih awal perlu disesuaikan dengan aktivitas latihan yang menjadi bagian dari proses belajar.
Menurutnya, latihan seperti menghafalkan notasi, berlatih pedalangan, atau mempersiapkan penampilan tetap membutuhkan waktu tambahan. Selama digunakan untuk kegiatan yang bermanfaat, seperti belajar dan mengembangkan kemampuan seni, hal tersebut masih dapat ditoleransi.
“Kalau memang untuk latihan, menghafalkan naskah, atau persiapan tampil dan belum maksimal, ya jangan dipaksakan tidur cepat. Tapi kalau untuk kegiatan yang tidak bermanfaat seperti bermain gadget, ya tidak perlu dilakukan,” jelas Vina.